Senin, 16 Juli 2012

Wrong "When You Know The Truth" (Chapter 1)

Wrong

"When You Know The Truth"

 

Cast:

Tan Hangeng

Park JungSoo (GS)

Choi Eun Joon

Lee Donghae 

Go Ara

Choi Rae Neul

Kim Soo Jung


Authoress: Restia Ningsih

 

 Summary:

Keluarga adalah bagian terpenting dalam hidup ini. Dimana saat sesuatu terjadi pada kita, maka keluargalah yang pertama kali akan mengetahuinya. Keluarga adalah penyemangat dan alasan seseorang tetap hidup dan bertahan dari beratnya beban kehidupan. Namun, bagaimana jika seseorang merasa, kehadirannya tidak pernah diharapkan dalam keluarganya?

.............................................................................................................

Eunjoon POV

Akhirnya aku bisa menghirup udara Seoul lagi. Tadinya aku pikir, aku akan mendekam di asrama yang menyeramkan itu selamanya. Tapi untunglah aku bisa keluar dari sana lebih cepat. Ya, berterimakasihlah pada kecerdasan luar biasa yang dianugrahkan Tuhan padaku.

Dan disinilah aku sekarang, bandara Incheon, menanti siapa saja keluargaku yang akan datang menjemputku. 1 menit, 5 menit, 17 menit, 31 menit. Kemana mereka? Padahal aku sudah mengirimkan e-mail pada kakakku. Memang belum ada balasan, tapi entah kenapa aku yakin dia pasti membcanya. Tadinya aku ingin menelponnya, tapi salahkanlah Ponselnya yang tidak kunjung berhasil kuhubungi.

Baiklah, sudah 1 jam 13 menit aku menunggu disini. Belum ada tanda-tanda siapapun akan datang menjemputku. Kecewa? Tentu saja. Tadinya aku bahkan sudah membayangkan penyambutan mereka atas kepulanganku. Tapi yang kudapat?

'Every single day I try
Jeongmal geoui da wass-eo
We get closer to a good time
Silyeondeul-e Say goodbye
Oh!'

Ponselku berdering, tertera nama kakak pertamaku dilayarnya.
"Yoboseo?".
"Eunjoon~ah, mianhaeyo, oppa tidak bisa menjemputmu. Sekarang kami sedang di Rumah Sakit. Rae Neul masuk rumah sakit tadi sore. Kau bisa pulang sendirikan? Kau masih ingat jalan pulangkan?".
"Ah, ye, tentu saja, aku baru pergi 2 tahun, bagaimana aku bisa lupa".
"Hah, baguslah, aku lega mendengarnya. Nanti kau langsung pulang saja dan istirahat, ne".
"Ne, Oppa....."

'piip'

Belum selesai aku bicara, dia sudah menutup teleponnya, sebegitu sibukkah dia? Sebetulnya, bukan aku tidak berani pulang sendiri, tapi karena aku rindu pada mereka. Tidak bisakah salah satu dari mereka ebjemputku? Apa semua orang menunggui Rae Neul Eoonie di Rumah Sakit? Bahkan Rae Neul Eonnie masih punya Umma dan Appa.
Baiklah, daripada terus mengomel, menghabiskan energi yang kuisi beberapa jam yang lalu di pesawat, lebih baik aku segera pulang, merebahkan diri di ranjang kesayanganku, memeluk Papa Bear Biru Safir ku. Ah, aku makin tidak Sabar.

Eunjoon POV End

Normal POV

Akhirnya Eunjoon sampai dirumah dengan diantar Taxi. Tidak pernah ia bayangkan keluarganya akan membiarkan dirinya pulang sendirian diatas pukul 23.00 dengan menggunakan taxi. Tapi, itulah yang baru saja terjadi. Kondisi rumahnya memang cukup untuk menjelaskan keadaan saat ini. Ya, semua penghuni rumah itu sudah pindah ke Rumah Sakit hanya untuk menemani seorang, ya seorang wanita. Untung Eunjoon masih ingat dimana tempat penyimpanan kunci. Kalau tidak, pasti akan lebih parah lagi. Mungkin dia akan bermalam di rumah Seondam, anjing peliharaannya. Dan jangan lupakan, perutnya yang mungkin sudah kosong kembali sekarang.

"Benar-benar tidak ada orang". komentar Eunjoon begitu masuk dan melihat kondisi rumahnya.

Dia menelusuri setiap sudut rumahnya. Melupakan rasa lelah yang sempat menyerangnya beberapa menit yang lalu. Kerinduannya terhadap rumah ini dan isinya benar-benar menyita rasa lelah Eunjoon. Dia melintas setiap pintu kamar anggota keluarganya dengan perlahan.
Kamar Umma-Appa, Kakak pertama, Kakak Kedua, Adik satu-satunya.

"Apa kalian tidak rindu padaku? Aku rindu kalian, sangat rindu". Ucap Eunjoon lirih, hingga tanpa sadar dia menitikkan cairan bening dari kedua sudut matanya.

Eunjoon tidak bisa lagi melawan rasa lelahnya. Diapun tertidur di sofa ruang tengah, tanpa penerangan sedikitpun. Gelap,,, dan dingin dan sendiri.
 .
.
.
.
.
 .
Ayam di Korea cukup rajin untuk membangunkan setiap jiwa yang masih terlelap dan belum kembali dari alam mimpinya. Termasuk Eunjoon. Masih cukup pagi memang, tapi Eunjoon buru-buru bangun, bahkan terlihat seperti anak yang akan terlambat kesekolah. Mungkin dia sudah terbiasa dengan rutinitas di Amerika.
Sebentar saja, tak sampai satu jam, Eunjoon sudah kembali ke uang tengah dengan tampilan yang lebih bersih. Eunjoon menghela napas sekencang-kencangnya, menyadari belum ada satupun keluarganya yang pulang.

"Apa yang nereka lakukan sekarang? Bergantian menyuapi Rae Neul Eon? lucu sekali". keluh Eunjoon yang kemudian beranjak menuju kamarnya. Memilih untuk menghabiskan waktunya disana, minimal sampai keluarganya kembali.
Tak banyak yang bisa Eunjoon lakukan di kamarnya. Hanya sekedar bermain Game di Laptopnya, atau sekedar membuka jejaring sosialnya, tak menarik menurutnya.

Pandangan Eunjoon tiba-tiba teralih pada sebuah album foto yang sudah lama tidak dilihatnya.

"Eum, album ini. Kenapa muncul lagi.  Aku sudah lama tidak melihatnya. Terakhir saat aku kelas 3 SD". tukas Eunjoon mencoba mengingat-ingat.

Eunjoon mulai membuka album itu perlahan-lahan. Tanpa disadari, senyum kecil tergambar diwajahnya. Masa-masa seperti itulah yang sepertinya ia rindukan.
.
.
.
.
.
.
Menjelang makan siang, akhirnya keluarga yang dinantikan tiba. Tapi sepertinya Eunjoon tidak menyadari kepulangan mereka. Terbukti meski kini mereka sudah berada didalam rumah dengan kegaduhan yang teramat sangat, Eunjoon tak juga menunjukan batang hidungnya.

"Bukankah Eunjoon sudah pulang?". Sang Ibu akhirnya teringat pada putrinya.
"Ah iya, aku lupa mengeceknya". Jawab Donghae, si kakak keduanya.
"Apa sekarang dia dikamar?". Kali ini Ara yang membuka suara.

Tanpa menunggu lagi, Ara segera naik keatas menuju kamar adik keduanya. Begitu dia membuka pintu bercat biru dengan gambar Beruang putih itu, tampak orang yang dimaksud masih terlelap, sangat malas, kira-kira begitulah pemikiran mereka yang berdiri diambang pintu kamar Eunjoon.

"Jam segini dia masih tidur. Apa ini yang dia pelajari di Amerika selama 2 tahun?". Ucap ibunya sedikit kesal.
"Umma, mungkin Eunnie lelah. Perjalanan dari Amerika ke Seoul itu cukup jauh. Lihat, kopenya sudah kosong". Bela Donghae, yang kemudian berjalan kearah lemari Eunjoon.
"Bahkan dia benar-benar sudah merapikan semuanya, pasti dia lelah Umma". Sambung Donghae.
"Iya Umma, lagi pula ini hari pertamanya merasakan kembali tempat tidurnya". Tambah Ara, turut membela adiknya.

Menerima pembelaan yang dilakukan 2 kakak beradik ini untuk anak ketiganya, sang Umma hanya bisa tersenyum.
"Kalian ini, memang kompak sekali". kalimat itu entah berupa pujian atau keluhan, yang pasti sang Umma tersenyum sambil mengatakan itu.

Tak berapa lama, suara anak kecil menusuk gendang telinga mereka. Suaranya kacau, sangat kelihatan anak kecil ini baru saja bangun dari tidurnya. 


"Ummaaaaa.....". anak kecil itu menghampiri ummanya.
"Ne, Chagy, waeyo?". Sang Umma menggendong Putri bungsunya itu.
"Kenapa Soo Jung ditingalkan di mobil?". tanyanya dengan memasang wajah cemberutnya.
"Mianhae chagy, tadi Soo Jung kelihatan nyenyak sekali tidurnya, Umma tidak tega membangunkan. Tapi, di mobilkan cukup nyaman". Jawab Umma.
"Tapi Soo Jung sendirian". Lagi-lagi Bocah mungil ini mempoutkan bibirnya.
"Aish, anak manja, lihat, siapa yang sedang tidur disana? Jangan berisik". Donghae menunjuk kearah Eunjoon.


Seketika saja mata Soo Jung yang tadinya belum terbuka seutuhnya, kini sudah membulat sempurna begitu mata kecilnya menoleh kearah yang ditunjuk Daonghae.


"Eunjoon Eonnie". teriaknya, mengabaikan apa yang baru saja dipesankan Donghae padanya.


Soo Jung buru-buru turun dari gendongan ibunya, dan berlari mendekati kakaknya tercinta yang masih terlelap itu.


"Soo Jung". Panggil Ketiga orang dewasa itu berbarengan.


Dan sayangnya, kerinduan Soo Jung membuat Dia tidak mau mendengarkan panggilan mereka.


"Eonnie, ireona... Eonnie,, ieona palli". Soo Jung membangunkan Eunjoon, sambil menepuk-nepuk  pundak Eunjoon dengan TIDAK PELAN.
Dan, hasilnya, Eunjoon memang terbangun. Siapa yang tidak bangun jika sudah ditepuk, atau lebih tepatnya dipukul sekeras itu.


"Enghhh... Nuguya?,,,". Eunjoon melenguh, mencoba membiasakan diri dengan lingkungan sekitarnya. Menatap satu persatu orang-orang disekelilingnya.

"Ommo, Umma, Eonnie, Oppa.... Kapan kalian pulang?". Tanya Eunjoon terlihat kaget melihat orang-orang yang sudah sejak semalaman ia nantikan kepulangannya.

"Ya! Eonnie, Eonnie tidak menyapaku? Aku yang membangunkan eonnie". untuk kesekian kalinya Soo Jung mempoutkan bibirnya.
"Lebih tepatnya menghajar eonnie, iyakan?". Respon Eunjoon sambil memencet hidung Soo Jung.
"Hehe, Bogoshipoyo Eonnie". Soo Jung dengan seenaknya memeluk Eunjoon dengan sangat erat, sampai-sampai Eunjoon kesulitan bernapas.

"Soo Jung, Eonnie tidak bisa bernapas tuh". Ara mencoba melepaskan Pelukan Soo Jung yang semakin kuat di leher Eunjoon.
"Cepat turun, kita makan dulu. Setelah itu baru kita cerita. Appa kalian pasti sekarang sudah menunggu di meja makan". Ajak Umma pada semua anak-anaknya.

Tanpa ada bantahan, mereka semua menuruti perintah sang Umma.
.
.
.
.
.
 @meja makan

Eunjoon POV

Aku merasa sedikit canggung disini. Sejak pertama aku melihat appa lagi, aku merasa benar-benar canggung. Mungkin ini karena hubungan kami yang tidak pernah dekat sejak dulu, ditambah lagi kami tidak bertemu 2 tahun, aku merasa wajar kalau appa tidak merindukanku. Tapi, setidaknya bolehkan aku berharap appa menanyakan kabarku? Dua tahun aku berpisah darinya, tidakkah dia khawatir?  Kami makan dalam keadaan tenang. Ah, bukan, lebih tepat jika kusebut tegang. Aku bisa melihat semua orang curi-curi pandang satu sama lain. Hm, kapan aku bisa merasakan kehangatan keluarga ini lagi? Seperti saat aku masih 6 tahun dulu.

Usai makan siang, umma mulai membuka pembicaraan.


"Kenapa kau terlambat bangun? Bahkan, tadi itu sudah tidak bisa dikatakan terlambat. Kau bermalas-malasan. Itu yang kau pelajari di Amerika?". Tanya Ummanya penuh emosi.
"Itu, sebenarnya....".
"Sebenarnya apa?". Kata-kata umma yang tiba-tiba memotong, membuat nyaliku semakin ciut.
"Sudahlah, sekarangkan dia sudah bangun kan?". Aku ingin tersenyum ketika mendengar ucapan appa yang seperti sedang membelaku. Tapi, keinginan itu aku urungkan karena umma yang tiba-tiba membantah appa.
"Tidak bisa begitu. Jangan-jangan ini adalah kebiasaannya. Aku mengizinkan dia belajar jauh di Amerika, bukan untuk melihat dia bermalas-malasan seperti itu". Aku benar-benar takut melihat wajah Ummaku sendiri sekarang.
Aku tahu aku salah, tidak seharusnya aku tidur saat jam sudah menunjukan pukul 11.00, tapi, siapa juga yang membuat aku menunggu hingga aku kesulitan tidur dengan nyenyak semalaman. Beberapa menit sekali aku terbangun, mengira mereka sudah pulang. Salah siapa? Ya, pasti salahku, siapa suruh.
"Kenapa diam?". Ucapan Umma sukses membuat aku semakin menunduk. Aku berani taruhan, saudara-saudaraku juga pasti sedang ketakutan sekarang. Bahkan Soo Jung yang cerewet itu juga tidak terdengar suaranya.
"Sudah-sudah, appa harus kekantor sekarang. Istriku, kau juga harus kebutikmu kan, kau sudah terlambat. Ara dan Donghae, pergilah bekerja. Soo Jung ikut appa, biar appa antar kesekolah". Perintah appa.
"Aku hari ini, mungkin tidak masuk kantor, aku harus menemani Rae Neul dirumah sakit". ujar Donghae Oppa meminta izin appa.
"Baiklah, terserah kau saja. Dan kau, Eunjoon, istirahatlah, nanti malam kita bicara lebih banyak". titah appa.
"Iya Appa". sekilas aku menoleh ke ummaku. Tapi dia sedang menatap kearah lain. Ada apa dengan Umma.
.
.
.
.
Rumah ini semakin sepi. Hari sudah semakin sore. Meski perut ini sudah berteriak meminta diisi, tapi aku tidak berniat mencari makanan di dapur. Aku lebih memilih duduk di kursi piano di kamar Ara Eonnie, begini lebih baik, aku bisa mengingat dan merasakan jemari Donghae oppa menuntun jemariku untuk menekan tuts piano, dulu sekali, saat aku baru-baru bisa mandi sendiri.


Aku mengedarkan pandanganku kesekeliling kamar ini. Hatiku terhenyuk, disinilah dulu kami banyak menghabiskan waktu. Bermain musik, melukis abstrak, bahkan bersembunyi. Dan, aku tidak pernah berhasil sembunyi dari Donghae Oppa, dia terlalu pintar. Tanpa sadar aku mengembangkan senyumku.


Dulu, bukan, aku bukan mengenang kisah 2 tahun yang lalu. Tapi aku mengenang kisah masa kecilku. Sebelum masa-masa indah itu hilang. 9 tahun yang lalu. Saat itu, aku benar-benar merasa telah menjadi anak sekaligus adik yang paling bahagia di dunia karena memiliki mereka. Tapi kini semua berubah. Semenjak insiden dokumen yang terbakar 9 tahun yang lalu itu semua berubah. Aku terlalu takut bahkan hanya untuk sekedar mengingat masa itu.


Aku kembali mendundukan diriki di kursi piano, dan memainkan sebuah lagu penuh kenangan. Perlahan-lahan kepalaku menyandar ke sisi datar piano, perlahan-lahan pula akhirnya mataku terpejam dan aku terlelap.


Eunjoon POV End


Normal POV

Keadaan diluar sudah mulai gelap, wajar saja, jam sudah menunjukan pukul 19.30 KST, Eunjoon juga masih tertidur. Entah kelelahan seperti apa yang sedang ia alami, sampai dia tidak bisa merasakan kehadiran seseorag didekatnya. Wanita manis itu kini menyelimuti Eunjoon dengan selimut hijau muda tebal.



"Eonnie ingin memindahkanmu ketempat tidur, tapi kau yang sekarang berbeda dengan kau 9 tahun yang 11 tahun yang lalu, sekarang kau sudah semakin berat". ucap wanita yang tak lain adalah Ara, kakak pertama Eunjoon di dekat telinga Eunjoon.
Eunjoon terlihat sedikit menggeliat. Dan perlahan ia membuka matanya.


"Eonnie... Kau sudah pulang?". tanya Eunjoon dengan polosnya.
"Ah, mianhae, eonnie menggangu tidurmu ya?". Wajah Ara terlihat menunjukan penyesalan.
"Ani, aku sudah lama tertidur. Untung eonnie yang ada disini, bukan umma. Yang lain belum pulangkan?". jawab serta tanya Eunjoon pada eonnienya.
"Ih, kau ini. Belum, mungkin mereka akan pulang agak malam, Soo Jung juga pasti ikut". Ara mncubit pelan lengan Eunjoon, menyalurkan rasa sayangnya.
"Baiklah, eonnie mau istirahatkan? Sebaiknya aku kembali kekamarku". baru Eunjoon mau berdiri, Ara kembali menundukan adiknya itu.
"Ani, sebenarnya eonnie sangat merindukanmu. Apa kau tidak rindu pada eonnie?". tanya Ara.
"Mana mungkin aku tidak rindu pada eonnie". Eunjoon menyamankan posisinya saat ini.
"Ayo ceritakan pengalamanmu 2 tahun di Amerika". pinta Ara.
"Ah, tidak ada yang istimewa. Aku tidak punya waktu untuk bermain keluar".
"Hm, kasihan sekali dongsaeng eonnie". Ara mengusap lembut puncak kepala Eunjoon.
"Eonnie, ..." Eunjoon memberanikan diri bertanya pada kakaknya.
"Wae?".
"Kenapa Umma masih bersikap seperti ini ya? Padahal tadinya aku pikir, 2 tahun kepergianku akan membuat umma sedikit merasa kehilangan, tapi ternyata tidak". mata eunjoon mulai memerah. 
Ara tak sanggup menjawab, ia hanya merengkuh tubuh rapuh adiknya itu.
"Jadi, 2 athun ini aku hanya bermimpi". kecewa Eunjoon pada dirinya sendiri.
"Bukan, bukan begitu, semua pasti akan kembali seperti dulu sayang. saat ini, kita sedang punya banyak masalah. Eonnie yakin setelah masalah ini selesai, kita akan bisa kembali seperti dulu". ucap Ara, menenangkan adiknya.
Tidak menjawab, Eunjoon hanya mempererat pelukan kakaknya itu.
.
.
.
.
Jam kini sudah melemparkan jarum panjangnya ke angka 10 dan jarum pendeknya ke angka 9. Umma, Appa, Donghae dan Soo Jung belum juga pulang. Ini sudah biasa untuk Ara, tapi tidak untuk Eunjoon. Ia begitu khawatir sekarang. Kini mereka duduk berdua sambil menonton tv. Tiba-tiba telepon berbunyi, dengan segera Ara mengankatnya.


"Yoboseo..." jawabnya pelan.
"..."
"Mwo?"
"..."
"Ne, algeuseumnida".
"..."
"Aku akan segera kesana".



Telepon terputus.
Kekhawatiran Eunjoon meningkat 100% melihat ekspresi Ara sekarang. Buru-buru Ara menyambar jaket dan kunci mobilnya.
"Eonnie mau kemana? Ada apa?"
"Kau tunggu dirumah, eonnie mau menjemput Soo Jung. Ingat jangan kemana-mana, tetap disini".
"Tapi....."


Belum sempat Eunjoon menjawab, Ara sudah meninggalkan Eunjoon. Kini tinggallah Eunjoon dengan sejuta kekhawatirannya. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa tiba-tiba ditengah malam seperi ini, eonnienya diminta menjemput Soo Jung. Memang ada apa dengan Appa atau Umma nya?


.
.
.
.
TBC






Selasa, 26 Juni 2012

Resensi Buku Nonfiksi "Pemilukada"


sebenarnya ini tugas kuliah saya, jadi buat 100% tepatnya saya gak bisa jamin ya,,,

PENDAHULUAN

a.       Isi Buku
Buku ini berisikan pembahasan tentang Pemilukada. Bagaimana Pemilukada sebelum amandemen UUD 1945. Bagaimana pemilukada setelah beberapa putusan Mahkamah Konstitusi. Bagaimana implikasi pemilukada terhadap jalannya pemerintahan di daerah, juga terhadap pertumbuhan demokrasi di daerah. Dalam buku ini juga membahas bagaimana konsep dari pemilukada untuk masa mendatang.

b.      Tujuan Penyusunan Resensi
-          Untuk memenuhi tugas mata kuliah Leadership
-          Untuk menambah wawasan dan kemampuan dalam membuat resensi
-          Kami ingin memberitahukan kepada seluruh masyarakat tentang isi buku ini layak atau tidak untuk dibaca.

c.       Manfaat Buku
Buku ini bermanfaat untuk seluruh lapisan masyarakat. Karena bercerita tentang Pemilukada, yang mana merupakan suatu pembahasan yang tidak mutlak hanya dipelajari oleh segelintir orang saja. Pemilukada  berkaitan dengan masa depan bangsa. Dengan buku ini, sedikit banyak, kita akan tahu seperti apa konsep pemilukada yang ada di negara kita serta bagaimana implikasi-implikasi dari pemilukada itu sendiri diberbagai aspek.

d.      Sasaran
Buku ini ditujukan untuk masyarakat luas dari bawah, menengah, dan atas. Khususnya para siswa dan mahasiswa.

e.       Sistematika Buku
Buku ini disusun dengan sederhana. Dimulai dengan pembuka pembahasan, inti pembahasan dan diakhiri dengan penutup pembahasan.

f.       Kebahasaan dan Ejaan
Buku ini menggunakan bahasa indonesia yang baku. Namun, tetap memasukkan istilah-istilah asing, baik yang berupa istilah pendek maupun kutipan dari buku-buku terkenal.




PEMBAHASAN

a.       Identitas Buku
Judul  buku         : Pemilukada: Regulasi, Dinamika, dan Konsep Mendatang.
Jenis Buku           : Nonfiksi
Penulis                 : DR. Suharizal, S.H., M.H
Penerbit               : RajaGrafindo Persada
Tahun terbit         : 2011
Tebal buku          : 244 hlm, 21 cm
Harga Buku         : Rp. 47.000,00

b.      Isi Resensi
Di dalam buku ini, terdapat lima Bab yang membahas tentang pemilukada. Dari masing-masing bab tersebut, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

-       Bab I
 Disamping adanya perubahan ditingkat UU 1945, alasan yuridis lain yang mengharuskan kepala daerah dipilih secara langsung adalah karena memilih kepala daerah tidak lagi menjadi tugas dan wewenang DPRD. Dalam UU No. 22 tahun 2003 dijelaskan  bahwa DPRD hanya diberi peran minimal yaitu sebatas mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian kepala daerah.

-       Bab II
Pilkada telah dilakukan dengan tiga jenis sistem, yakni:
1.      Sistem penunjukan atau pengangkatan oleh pemerintah pusat.
2.      Sistem pemilihan perwakilan semu.
3.      Sistem pemilihan perwakilan.
Pilkada sebetulnya merupakan alternatif untuk menjawab hiruk-pikuk, gaduh, kisruh dan jeleknya proses maupun hasil pilkada secara tidak langsung lewat DPRD di bawah UU Nomor 22 Tahun 1999.
Ada beberapa faktor pendorong  dilakukannya pilkada secara langsung, yaitu:
1.      Pilkada langsung menawarkan sejumlah manfaat dan sekaligus harapan bagi pertumbuhan, pendalaman, dan perluasan demokrasi lokal.
2.      Pilkada langsung memungkinkan munculnya secara lebih lebar preferensi kandidat-kandidat yang bersaing serta memungkinkan masing-masing kandidat berkompetisi dalam ruang yang lebih terbuka dibandingkan ketertutupan yang sering terjadi dalam demokrasi perwakilan.
3.      Pilkada langsung akan memberi peluang bagi warga untuk mengaktualisasi hak-hak politiknya secara lebih baik.
4.      Pilkada langsung memperbesar harapan untuk mendapatkan figur pemimpin yang aspiratif, kompeten dan legitimate.
Keterlibatan rakyat dalam pemerintahan merupakan ciri mutlak dai demokrasi, yang juga berarti rakya ikut berperan serta melakukan pengawasan terhadap pemerintahan. Kesalahan atau legitimasi suatu pemerintahan dalam perspektif demokrasi dapat diihat sampai seberapa besar partisipasi rakyat dalam pemerintahan.

-       Bab III
a.       Implikasi terhadap jalannya pemerintahan di daerah:
·         Memunculkan pemerintahan yang terbelah di daerah.
·         Pencapaian tujuan Otoda. Pemerintahan daerah akan jauh lebih memahami akan kebutuhan dan keinginan masyarakat daerah dibandingkan pemerintah pusat.
·         Implikasi terhadap akuntabilitas. Akuntabilitas Kepala Daerah kepada masyarakat berkaitan dengan partisipasi masyarakat. Setiap elemen masyarakat mempunyai hak dan ruang untuk berpartisipasi, tanpa orang harus bertanya masyarakat yang mana. Ruang partisipasi inilah yang konsisten dengan pilkada secara langsung untuk mendukung akuntabilitas kepala daerah.
·         Fluktuasi hubungan kepala daerah dengan DPRD. Praktek fluktuasi ini merupakan bukti tidak berjalannya hubungan kesetaraan dan bersifat kemitraan sebagaimana yang diharuskan dalam UU NO. 32 Tahun 2004.
·         Implikasi terhadap pendapatan dan belanja. Pilkada bukan hanya mahal dari sisi biaya penyelenggaraan yang harus ditanggung APBD, tetapi juga mahal dari ongkos yang harus dibayar “investor” politik. Sehingga cukup valid untuk mengatakan pilkada langsung memboroskan uang negara dan belum memberi hasil optimal.
·         Disharmonisasi hubungan kepala daerah dengan wakil kepala daerah.
b.      Implikasi terhadap pertunbuhan demokrasi di daerah:
·         Penguatan demokrasi lokal.
·         Hubungan kepala daerah.
·         Konflik sosial dan kelembagaan. Selain berhasil menghadirkan pemimpin daerah, pilkada secara langsung berhasil pula menghadirkan kenyataan konflik sosial yang terjadi di banyak daerah.hal ini mendorong perlunya pencermatan kembali terhadap aturan yang ada mengenai penyelenggaraan pilkada.

-       Bab IV
·        Pemilukada dimasa mendatang diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien.
·        Pemilukada di masa mendatang diharapkan dapat menggabungkan antara pilkada dengan pilpres dan juga pemilu dewan legislatif dalam satu waktu. Karena pemilu, termasuk pemilukada secara langsung , disebut demokratis kalau memiliki “makna”. Istilah bermakna disini merujuk pada tiga kriteria, yaitu keterbukaan, ketepatan dan keefektifan. Dalam kerangka kefektifan, penyederhanaan waktu pelaksanaan pilkada menjadi pilihan yang realistis dan rasional. Diantara pilihan yang paling mungkin untuk hal ini adalah menggabungkan pilpres dengan pilkada secara serentak.
·        Selain mengefisienkan waktu, biaya dan tenaga, pelaksanaan pilkada yang serentak dengan pilpres akan meminimalisir kekerasan dalam pilkada.selain itu, KPU pusat jga dapat lebih fokus dalamm memonitor pelaksanaan pilkada.

-       Bab V
Pilkada yang demokratis, jujur dan adil dapat tercapai apabila tersedia perangkat hikum yang mengatur semua proses pelaksanaan pilkada, sekaligus mampu melindungi para penyelenggara, peserta, kandidat, pemilih, pemantau, dan warga negara. Karena itu, kedepan dibutuhkan regulasi yang mampu mendorong pilkada yang efisien dan efektif.

c.       Kelemahan Buku
Dalam buku ini, kami menemukan beberapa kelemahan, yaitu:
a.       Mengulang kalimat yang sama pada halaman yang sama. Seperti pada halaman 17 alinea pertama, kalimat “Berdasarkan UU NO. 22 tahun 1999, pilkada dilakukan menggunakan sistem demorasi tidak langsung, dimana kepala daerah  dan wakil kepala daerah dipilih oleh DPRD dengan penegasan asas desentralisasi yang kuat.....” kembali disebutkan pada alinea ketiga.
b.      Mengulang kalimat yang sama untuk halaman yang berbeda, tanpa makna yang jelas. Misalnya, Pada halaman 23, bacaan “semangat dilaksanakannya pilkada langsung adalah koreksi terhadap sistem demokrasi tidak langsung...”  kembali disebutkan pada halaman 42 alinea ketiga.
c.        Mencantumkan beberapa kutipan asing tanpa disertai artinya. Misalnya, pada halaman 42 alinea kedua “the transfer of administrative responsibility from central to local governments”.
d.      Catatan kaki terlalu banyak. Catatan kaki memang cukup penting untuk sebuah buku. Namun keberadaannya yang terlalu banyak, bahkan hampir ¾ dari satu halaman, dapat mengurangi nilai estetika dari buku itu sendiri, sekalipun itu adalah buku nonfiksi. Misalnya pada halaman 63 dan 195.

d.      Kelebihan Buku
a.       Pembahasan dalam buku ini dilengkapi dengan tabel, diagram, dan bagan.
b.      Buku ini juga dilengkapi dengan catatan kaki yang akan menjelaskan lebih detil suatu istilah atau kalimat.
c.       Daftar pustaka dalam buku ini dicantumkan dengan lengkap.
d.      Penulis menggunakan bahasa baku dalam setiap pembahasan dalam buku ini.
e.       Dalam buku ini juga terdapat kutipan-kutipan asing yang menjadi variasi tersendiri dalam bacaan.
f.       Penulis mencantumkan biografinya pada akhir pembahasan.


PENUTUP


a.       Kesimpulan

          Buku ini berisi pembahasan tentang pemilukada. Cukup detil dijelaskan mulai dari sejarah awalnya pemilukada dari yang dipilih oleh DPRD sampai saat berubah menjadi sistem pemilukada yang dipilih secara langsung oleh rakyat, hingga prospek-prospek untuk pemilukada dimasa yang akan datang. Tidak hanya membicarakan pemilukada secara dasar, namun buku ini juga membahas hal-hal lain terkait pemilukada, salah satunya yaitu  implikasinya terhadap pemerintahan di daerah.
          Pemilukada tidak dengan sendirinya menjamin peningkatan kualitas demokrasi itu sendiri, namun tetap membuka akses terhadap peningkatan kualitas demokrasi. Akses tersebut berarti berfungsinya mekanisme kawal dan imbang dengan dimensi meliputi hubungan Kepala Daerah dengan rakyat, DPRD dengan rakyat, Kepala Daerah dengan DPRD, dan Pemerintahan Daerah dengan Pemerintahan Pusat.
          Buku ini dapat dibaca oleh segala umur. Dan sangat pas untuk menjadi bahan bacaan para mahasiswa, khususnya mahasiswa hukum.

b.      Saran

·      Pengarang
-      Sebaiknya pengarang bisa menggunakan diksi yang lebih tepat agar mempermudah pembaca memahami maksud dari penulis.
-      Sebaiknya penulis bisa lebih banyak mencantumkan studi kasus agar pembaca dapat lebih mudah memahami penjelasan penulis dengan sebuah contoh yang real.
·      Pembaca
-       Sebaiknya pembaca memilih waktu yang tepat untuk membaca buku ini. Karena, buku ini tergolong buku dengan pembahasan berat yang membutuhkan tingkat fokus yang tinggi.
-    Pembaca harus lebih cermat membaca buku ini, karena tidak jarang penulis menggunakan bahasa-bahasa yang cukup baru di telinga masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA


Suharizal. 2011. Pemilukada: Regulasi, Dinamika, dan Konsep Mendatang. Jakarta : RajaGrafindo Persada

Kamis, 14 Juni 2012

Yesung Juga Sayang Kyuhyun


Hai Hai... Annyeong haseyo... Pie kabare readerdeul... Hem, saya rada sedih nih... Soalnya gak ada yang mau meluangkan waktu, barang Cuma 5 menit buat nulis komentar untuk postingan saya. Sedih banget... huhu *peluk Kyuppa* Oke deh, menggalaunya segitu aja. Sekarang ini saya mau share sesuatu. Jadi tadi itu saya ada nemu (?) sebuah artikel yang isinya surat Yesung Oppa buat Kyuhyun Oppa waktu Kyuppa ultah kemaren. Dan, isinya cukup bisa membuat air mata saya jatuh beberapa tetes. Terharu, sedih, seneng, semua jadi satu. Thank You buat sebagai pihak yang punya artikel yang saya baca itu. Tenang, saya gak bermaksud copy paste kok. Saya bakalan ketik ulang, karena saya tahu betapa capeknya ngetik itu.  

Kartini di 2012

haiiii.... haha.... blog ini sudah saya tinggalkan beberapa tahun. rasanya kangen sangat,,, hehe... tapi aku rada bingung mau share apa disini. aha... aku share cerpen aku aja deh kalo gitu. gak bagus-bagus banget sih... tapi ya,,, cukuplah buat bacaan dikala senggang,,, hehe... okeh.... enjoy it guys!!!